Wednesday, October 17, 2007

Kepentingan Bangsa Vs Kepentingan Perempuan

Soekarno dan Gerakan Perempuan
Kepentingan Bangsa Vs Kepentingan Perempuan

Gadis Arivia

MEMBUKA lembaran-lembaran buku bersejarah tentang Soekarno dan mencari tulisan-tulisan maupun paragraf-paragraf yang penting, yang menuangkan gagasan Soekarno tentang perempuan, mengantar kita ke lembaran sejarah pergerakan perempuan di masa lalu.I

"Banjak orang jang tidak mengerti apa sebabnja saja anggap kursus-kursus wanita itu begitu penting. Siapa jang membatja kitab jang saja sadjikan sekarang ini,-jang isinja telah saja uraikan di dalam kursus-kursus wanita itu dalam pokok-pokoknja-akan mengerti apa sebab saja anggap soal wanita itu soal jang amat penting. Soal wanita adalah soal-masjarakat!"

(Soekarno, Sarinah, 1947)

Representasi ini sangat mengesankan ketika melihat gambar-gambar perjuangan perempuan yang dibalut kain kebaya menyuarakan aspirasi mereka, bukan hanya soal kepandaian putri, tetapi bahkan menyerukan perjuangan revolusioner.

Satuan perjuangan yang pertama adalah Lasjkar Wanita Indonesia atau Lasjwi yang didirikan Aruji Kartawinata di Bandung tahun 1945. Satuan ini mengangkat senjata dan berangkat ke garis depan medan pertempuran, bergiat dalam melakukan perawatan prajurit yang menderita luka, menyelenggarakan dapur umum dan menjahit seragam prajurit. Satuan-satuan semacam ini menyebar ke seluruh Jawa, serta Sumatera Tengah dan Selatan, Sulawesi Tengah dan Selatan.

Di Jakarta terdapat organisasi Wani atau Wanita Negara In-donesia (1945) yang dipimpin sejumlah tokoh seperti Suwarni Pringgodigdo (Istri Sedar), Sri Mangunsarkoro, dan Suyatin Kartowiyono. Wani mendistribusikan beras untuk tujuan perjuangan. Terdapat pula organisasi-organisasi buruh seperti Barisan Buruh Wanita yang berhaluan kiri, salah satu tokohnya adalah SK Trimurti.

Jauh sebelum masa perjuangan revolusioner, pergerakan perempuan sebenarnya sudah dimulai oleh perempuan-perempuan kelas menengah. Ada beberapa faktor mengapa kelas menengah mengambil peranan yang penting di sini. Faktor-faktor tersebut antara lain disebabkan tingkat pendidikan, waktu luang dan juga akses informasi dan pengetahuan yang mereka miliki. Organisasi yang cukup kuat misalnya adalah Putri Merdeka, yang dibentuk tahun 1912 dan mempunyai afiliasi dengan Boedi Oetomo, organisasi nasionalis pertama yang berdiri tahun 1908. Afiliasi ini memperlihatkan bagaimana pada saat itu organisasi perempuan sangat dekat dengan nasionalisme. Simbolisasi ini terlihat pada Kartini, seorang perempuan priyayi. Isu-isu yang dilontarkan senada dengan Kartini seperti persoalan pendidikan dan peningkatan kepandaian putri. Organisasi perempuan kelas menengah lainnya yang mempunyai nuansa agama adalah Muhammadiyah.

Organisasi perempuan mulai menjadi politis baru terlihat pada tahun 1920-an, ketika organisasi-organisasi politik yang besar seperti Sarekat Islam, Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Komunis Indonesia (PKI) mempunyai divisi perempuan. Organisasi-organisasi perempuan ini mempunyai anggota yang bervariasi dalam latar belakang sosial dan politiknya. Cakupannya meliputi tingkat kelas menengah-bawah yang meluas. Isu-isu yang dilontarkan adalah seputar partisipasi perempuan dalam politik dan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan (decision-making).

Pada suasana seperti inilah hadir Soekarno yang pada akhir tahun 1920-an mulai mengemuka sebagai tokoh nasionalis. Ia mulai terlibat dalam politik pada tahun 1926, dan satu tahun kemudian pada tahun 1927 ikut menggagas PNI. Ketika Kongres Ibu diadakan pertama kali pada tanggal 22 Desember 1928, Soekarno mengambil kesempatan ini untuk mengemukakan pendapatnya tentang perempuan.

II

"Berbahagialah kongres kaum ibu: diadakan pada suatu waktu, di mana masih ada sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira, bahwa perdjoangannja mengedjar keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu; Oleh karena daripada kaum bapak masih banjak jang kurang pengetahuan akan harganja sokongan kaum ibu itu; kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena kaum bapak belum insjaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu itu,-kita gembira hati ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang mengetahui atau mendjalankan kewadjibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan bangsa, dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu."

(Soekarno: Kongres Kaum Ibu, 1928)

PIDATO Soekarno pada Kongres Kaum Ibu tahun 1928 ini amat penting untuk membaca penempatan perempuan dalam pemikiran Soekarno. Ia menyokong hak-hak perempuan, namun ia menganggap perjuangan hak perempuan harus nomor dua setelah perjuangan kemerdekaan. Dan bila perjuangan hak-hak perempuan itu tercapai, perjuangan tersebut belum cukup karena kepentingan nasional belum terwujud.

Ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi kepada kaum perempuan saat itu: "Apakah kiranja sudah tjukup, jang kaum ibu Indonesia mendjadi sama haknja dengan kaum bapak Indonesia-hak kaum bapak Indonesia jang terikat-ikat ini? Apakah kiranja sudah tjukup, jang kaum ibu Indonesia mendjadi sama deradjatnja dengan kaum bapak Indonesia,-deradjat kaum bapak Indonesia jang tak lebih daripada deradjatnja orang djadjahan, tak lebih daripada deradjatnya putera negeri jang tak merdeka?" (Kongres Kaum Ibu, 1928)

Awalnya dalam Kongres Kaum Ibu, pandangan-pandangan Soekarno tidak mendapatkan sambutan yang hangat. Tigapuluh perempuan yang mengikuti kongres tersebut tetap berkonsentrasi untuk mendiskusikan isu-isu perempuan dan bukan nasionalisme. Bahkan, ada tuduhan terhadap Soekarno yang ingin "memolitikkan" isu-isu perempuan bagi kepentingan politiknya. Terhadap tuduhan ini, Soekarno mengelak dengan mengatakan bahwa soal perempuan adalah soal yang luas.

"Kita tidak mempolitikkan soal ini! Kita memudjikan pendirian jang demikian, tak lain tak bukan ialah oleh karena pada hakekatnja soal perempuan tidak dapat dipisahkan daripada soal laki-laki. Kita pun harus memperingatkan, bahwa jang menderita pengaruhnja sesuatu proses kemasjarakatan, dus djuga proses kolonial sebagai di sini, ialah bukan sahadja satu bagian, bukan sahadja kaum laki-laki, tetapi semua manusia laki-perempuan jang berada di dalam lingkungannja proses kemasjarakatan itu." (Kongres Kaum Ibu, 1928)

Tak lama setelah Kongres Kaum Ibu diadakan, beberapa organisasi baru terbentuk. Di antaranya adalah Perikatan Perempuan Indonesia (PPI) yang namanya kemudian berubah menjadi Asosiasi Perempuan Indonesia (API). Tahun 1935, berganti nama lagi menjadi Kongres Perempuan Indonesia (KPI).

Dalam kiprah politiknya, kelompok ini kelihatannya mengambil "jalan tengah" yakni bermain di antara isu-isu perempuan dan nasionalisme, antara isu perkawinan yakni monogami dengan pendidikan campuran (anak laki-laki dan perempuan). Kelompok ini berusaha menjaga harmoni antara kelompok yang berbasis agama dan yang sekuler.

Kali ini, Soekarno berhasil mencuri perhatian kelompok perempuan apalagi ide memperjuangkan kemerdekaan dapat merangkul kelompok-kelompok perempuan berbasis agama yang masih curiga dengan isu-isu perempuan yang diperjuangkan, seperti hak seorang istri untuk meminta perceraian bila sang suami mempunyai istri kedua.

Situasi ini menimbulkan per-debatan yang seru di antara kelompok perempuan. Maria Ulfah Subadio yang lama aktif di dunia politik dan kemudian menjadi menteri perempuan pertama Indonesia merefleksikan ketegangan yang terjadi saat itu, dan menyimpulkan bahwa: "Kita memang bukan merupakan sebuah gerakan feminis, kita tidak pernah mendjadi sebuah gerakan feminis, kita berfikir lebih baik melawan pendjadjahan daripada melawan laki-laki. Djadi, kita membutuhkan laki-laki sebagai sekutu." (Doran, 1987:104)

Setelah Kongres Perempuan Indonesia berakhir, beberapa organisasi kelompok perempuan bermunculan untuk mengangkat persoalan politik negeri. Tahun 1930, Istri Sedar yang dibentuk di Bandung menyatakan diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan. Ide dasarnya adalah bahwa tidak akan ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila tidak ada kemerdekaan.

Sesudah Jepang menyerah, kaum perempuan dari kalangan parpol dan ormas berbasis agama seperti Aisyah dan Wanita Katolik membuat agenda untuk menunjang perjuangan. Hal yang sama dilakukan juga oleh Wanita Muslimat dari Masyumi.

Istri-istri anggota angkatan bersenjata seperti anggota Bhayangkari (1945) dan istri-istri Angkatan Laut (1946) melakukan kerja sama untuk saling membantu dalam perjuangan terutama apabila suami mereka tewas. Pada Kongres Kaum Perempuan di Klaten pada bulan Desember 1945, Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) bertekad mendukung revolusi nasional.

III

"Sekarang kita telah Merdeka. Kita telah mempunjai Negara. Kita telah mempunjai Republik. Bagaimanakah aktiviteit wanita di dalam perdjoangan Republik kita itu? Inilah soal jang amat penting, jang diinsjafi sungguh-sungguh oleh semua pemimpin wanita Indonesia. Malahan bila mungkin, djangan ada seorang wanita pun jang tidak insjaf, djangan ada seorang pun di antara mereka jang ketinggalan! Dengan tiada berfaham komunis saja dapat mengagumi ucapan Lenin: "Tiap-tiap koki harus dapat mendjalankan politik"Maka saja berkata: "Hai wanita-wanita Indonesia, djadilah revolusioner,-tiada kemenangan revolusioner, djika tiada wanita revolusioner, dan tiada wanita revolusioner, djika tiada pedoman revolusioner!" Tiap-tiap pergerakan jang menghantam, melemahkan, menggempur imperialisme adalah pergerakan-pergerakan revolusioner." (Sarinah, 1947:247,283)

SEJAK Awal tahun 1930-an Soekarno telah masuk dalam fase baru dalam perkembangan pemikiran politiknya, yaitu menguatnya konsep-konsep marxisme di dalam dirinya. Baginya, perjuangan perempuan yang lebih penting adalah penghancuran kapitalisme. Hal inilah yang ia tekankan kepada kaum perempuan dengan sekali lagi menegaskan bahwa "kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tidak tjukup. Ada kebutuhan jang lebih besar lagi jaitu penghancuran sistem kapitalis". (Doran, 1987:104).

Hampir separuh buku Sarinah, menguraikan pandangan-pandangan dan pemikiran-pemikiran pergerakan perempuan sosialis. Nama yang kerap mun-cul di dalam buku ini adalah Clara Zetkin yang oleh Soekarno dijuluki sebagai "ibu besar" dari pergerakan proletar sedunia. Ia menceritakan bagaimana Zetkin menggagas Kongres Perempuan Internasional bersama Rosa Luxemburg. Perjuangan hak mengikuti pemilihan umum memang merupakan agenda pertama dari mereka dan ini diperjuangkan melalui Kongres Perempuan Internasional. Namun, tidak hanya berhenti di sini, ia juga memperluas perjuangannya dalam soal menggempur kapitalisme.

Pembesaran figur Zetkin oleh Soekarno sebenarnya cukup berlebihan dan mengalami polesan yang sedemikian rupa untuk menjaga kepentingan pemikirannya sendiri yang sedang mengeras ke arah "kiri". Ia sama sekali tidak menjelaskan protes gerakan perempuan sosialis akan keberatan mereka terhadap ide-ide dan aksi-aksi mengalahkan kepentingan perempuan demi kepentingan ideologi. Ia juga tidak menyinggung betapa Zetkin berusaha mendiskusikan secara terbuka isu-isu kesetaraan dalam diskusi perempuan dalam Partai Komunis yang saat itu mendapat teguran keras dari Lenin. Bagi Lenin apa yang dikerjakan Zetkin-yaitu mendiskusikan isu-isu perempuan-tidak memberikan kontribusi dalam perjuangan revolusioner. Menurut Lenin, yang seharusnya dilakukan oleh Zetkin bukan membuang-buang waktu membicarakan soal-soal perempuan tetapi membangkitkan gairah dan kesadaran perjuangan revolusioner menentang kapitalisme pada perempuan.

Sebaliknya, bagi Zetkin, persoalannya jelas bahwa terdapat kebutuhan bagi perempuan untuk memahami dan menghubungkan penindasan yang terjadi di bidang "privat" maupun "publik". Ia mengerti benar mengapa perempuan tertindas dan hal ini tampaknya sama sekali tidak dipahami oleh Lenin. Marxisme menjelaskan mengapa kapitalisme mengakibatkan adanya pembagian kerja antara perempuan dan laki-laki, pemi-sahan antara perempuan di dunia domestik dan laki-laki di dunia publik. Tetapi, marxisme tidak menjelaskan mengapa sebelum ada kapitalisme pemisahan tersebut sudah terjadi. Bagi Zetkin, baik kategori Marx maupun kapital sama-sama buta terhadap persoalan perempuan.

Tokoh-tokoh feminis sosialis setelah Zetkin kemudian mengagendakan persoalan perempuan sebagai yang utama, baru kemudian persoalan kelas. Walaupun feminis sosialis setuju dengan para feminis marxis bahwa pembebasan perempuan bergantung pada penghancuran kapitalisme, namun mereka juga sadar bahwa kapitalisme tidak dapat dihancurkan bila patriarki tidak dimusnahkan. Bagi mereka materi atau hubungan ekonomi masyarakat tidak akan mengalami perubahan yang berarti bila ideologi patrarki tidak dirubah. Perempuan dengan demikian harus berperang melawan dua musuh sekaligus, yakni kapitalisme dan patriarki. Baru di sana pembebasan yang sejati terhadap perempuan bisa terwujud.

Pada tahun 1950-an, badan organisasi perempuan diakui bukan lagi hanya satu. Kongres Wanita Indonesia (Kowani) yang dibentuk pada tahun 1946 untuk menunjang perjuangan kemerdekaan, bubar. Kongres Wanita Indonesia hanyalah salah satu upaya untuk memfasilitasi kontak di antara organisasi perempuan, namun tidak memiliki otoritas melakukan keputusan sendiri. Organisasi perempuan yang cukup kuat saat itu adalah Gerwis, sebuah organisasi yang independen bertujuan memajukan pendidikan perempuan dan menyediakan fasilitas penitipan anak. Tahun 1954, organisasi Gerwis menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) dan kemudian menjadi organisasi yang tangguh memiliki paling tidak satu juta anggota. Walaupun tidak ada hubungan yang resmi antara Gerwani dan PKI, namun seringkali Gerwani dipandang sebagai bagian dari divisi perempuan PKI. Hubungan yang erat antara Gerwani dan pergerakan buruh (SOBSI) serta PKI, membuat hubungan Gerwani dengan Soekarno menjadi sangat dekat.

IV

"Setelah bayiku berumur dua hari, waktu aku sedang berbaring, pagi-pagi benar datanglah Bung Karno. Bung Karno du-duk di depanku dan kemudian berkata: 'Fat, aku minta izinmu, aku akan kawin dengan Hartini.' Aku dengarkan saja apa yang Bung Karno utarakan tadi dengan seksama dan tenang. 'Boleh saja,' kataku menjawab, tetapi Fat minta dikembalikan pada orangtua. Aku tidak mau dimadu dan anti poligami. Tetapi aku cinta padamu dan juga cinta pada Hartini, demikian Bung Karno. 'Oo, tak bisa begitu!,' kataku." (Fatmawati, 1978:80)

PERKAWINAN Soekarno dengan Hartini pada tahun 1954 merupakan tamparan keras bagi kelompok perempuan. Hubungan Soekarno dengan gerakan perempuan menjadi tegang. Popularitas Soekarno jatuh dan ide-ide besarnya tentang perempuan di dalam bukunya Sarinah dipertanyakan. Ketegangan pun terjadi di antara kelompok perempuan. Nani Suwondo dari Perwari yang mendukung Fatmawati untuk meninggalkan Istana menyesalkan tindakan Gerwani, yang tidak memprotes perkawinan Soekarno dengan Hartini.

Gerwani dituduh lebih berat membela politik dan bukan kepentingan kaum perempuan. Protes Perwari sebaliknya merugikan organisasinya sendiri. Banyak anggota Perwari yang mengundurkan diri dari organisasi karena suami mereka mendapat tekanan di tempat kerja. Perwari selanjutnya kehilangan dukungan dan tidak menerima bantuan apa pun. Sujatin Kar-towiyono sebagai Ketua Perwari pada saat itu banyak menerima tekanan, intimidasi, bahkan ancaman mati.Setelah perkawinan Soekarno dengan Hartini, reformasi undang-undang perkawinan berjalan semakin lambat. Sebelumnya telah terjadi perbedaan pendapat yang mencolok antara kelompok perempuan yang berbasis agama dengan yang sekuler. Kemudian setelah Soekarno marah besar pada gerakan perempuan Indonesia, perjuangan reformasi undang-undang perkawinan semakin sulit. Baru pada tahun 1954, rancangan undang-undang perkawinan diajukan pada Kementerian Agama, namun, dibutuhkan tiga tahun lamanya, dan pada tahun 1957 rancangan tersebut dibahas dalam sidang kabinet pari-purna. Pada bulan Maret tahun 1958, PNI mengusulkan rancangan undang-undang perkawinan ke parlemen yang lebih radikal lagi, yakni menuntut monogami bagi seluruh bangsa Indonesia dan menjamin hak-hak yang sama dalam penceraian untuk perempuan.

Tentunya kata sepakat tidak tercapai dalam parlemen, karena ide ini tidak didukung oleh kalangan Muslim. Kompromi kemudian dicapai melalui ga-gasan Bhayangkari, bahwa permaduan diizinkan bagi suami-istri Muslim, tetapi kitab Un-dang-Undang Perkawinan Sipil mendasarkan diri pada aspek monogami. Perjalanan perjuangan undang-undang perkawinan setelah ini masih panjang karena ditentang Kementerian Agama. Perempuan Indonesia harus menunggu sampai tahun 1973 untuk mendapatkan undang-undang perkawinan baru yang melarang poligami.

V

"Sudah lama bunga Indonesia tiada mengeluarkan harumnja, semendjak sekar jang terkemudian sudah mendjadi laju. Tetapi sekarang bunga Indonesia sudah kembang kembali, kembang ditimpa tjahaja bulan persatuan Indonesia; dalam bulan jang terang benderang ini, berbaulah sugandi segala bunga-bungaan jang harum, dan menarik hati jang tahu akan harganja bunga sebagai hiasan alam jang diturunkan Ilahi. (Soekarno, Kongres Kaum Ibu, 1928)

PRIBADI presiden pertama Republik Indonesia ini memiliki tiga ciri persona yang menarik, yakni charm, kharisma, dan pamor (sinar cahaya). Ia juga sangat ahli dalam berkata-kata, sangat puitis dan sekaligus tajam dilengkapi daya analisa yang kritis. Secara keseluruhan, ia adalah laki-laki yang cute (elok) dan smart (tampan, cerdas), sangat menonjol dari laki-laki pada zamannya. Karya besarnya tentang perempuan yang ia tuangkan dalam bukunya berjudul Sarinah setebal 329 halaman ini, menunjukkan keseriusannya dalam membedah persoalan-persoalan perempuan. Pada bab-bab pertama, ia membahas soal laki-laki dan perempuan, soal "alam" dan "kultur" serta menunjukkan bagaimana perempuan didefinisikan oleh kultur. Pada bab-bab berikutnya, ia menjelaskan keadaan perempuan dan menyatukannya dengan pemikiran-pemikiran feminisme marxis/sosialis. Pada bab-bab terakhir, Soekarno mempertegas kewajiban perempuan, yakni ikut serta menyelamatkan Republik memperkuat Negara Nasional. Ia menjanjikan bahwa setelah negara terselamatkan, masyarakat adil dan sejahtera, dan perempuan pada akhirnya akan bahagia dan merdeka.

Benarkah janji itu terpenuhi? Kaum feminis belajar dari sejarah bahwa perjuangan bentuk apa pun yang meletakkan perjuangan perempuan sebagai bukan yang utama, akan mengalami penipuan. Segala bentuk penipuan terhadap perempuan adalah hal yang biasa dan sering dialami. Beberapa kali dalam sejarah perempuan diminta untuk memperjuangkan kemerdekaan dahulu baru kemudian hak-haknya. Memperjuangkan ideologi dahulu baru hak-haknya? Memperjuangkan demokrasi dahulu baru hak-haknya? Sudah seringkali di negara ini dan di belahan dunia lainnya, perempuan "dipakai" untuk tujuan-tujuan politik tertentu, yang lebih besar dan lebih agung. Bahkan, Gerwani akhirnya disingkirkan oleh rezim Orde Baru demi kepentingan politik rezim tersebut.

Seluruh filsafat abad modern memuja ide-ide besar, agung dan kebenaran mutlak. Soekarno dalam perspektif filsafatnya tidak dapat dilepaskan dari keterbelengguannya dengan "teori-teori besar" (grand theory), yang menganggap seluruh entitas ini sebagai suatu keseluruhan dan universal. Demikian pula pemikiran-pemikirannya tentang perempuan merupakan suatu entitas yang tidak dapat dipisahkan dari totalitas universal. Soekarno menganggap perempuan hanyalah suatu bagian dari suatu subyek yang lebih besar lagi, yakni revolusi, ideologi, negara, suatu rasionalitas yang semuanya diterjemahkan dengan cara berpikir maskulin.

Apakah ide-ide perempuan? Bagaimanakah moralitas dan etika perempuan? Kehidupan moral perempuan bukanlah da-tang dari ide-ide besar melainkan dari kehidupan sehari-sehari yang ia jalani: kehidupan ruang domestik yang ia geluti, ruang pribadi yang menyangkut kesejahteraan keluarganya, relasi-relasi kecil yang mempunyai keterikatan emosional, dunia feminitas yang tampak sederhana dari luar namun sangat kompleks dalam kehidupan perempuan. Soekarno tidak dapat mengerti pentingnya undang-undang perkawinan bagi kelompok perempuan, Lenin sulit memahami mengapa perempuan perlu berdiskusi segala tetek bengek yang ia anggap buang-buang waktu saja.

Feminisme tidak pernah tertarik untuk membangun suatu teori yang abstrak dengan prinsip-prinsip universal. Feminisme seringkali mengambil posisi epistemologis yang menentang suatu pencarian rasionalistik dan sistem universal. Sebaliknya, pencarian feminisme selalu ditekankan pada pengalaman moral. Feminis Annette Baier (1985) mengatakan bahwa perempuan dalam perdebatan moralnya mempunyai kehendak yang berbeda dari laki-laki, perempuan lebih menitikberatkan nilai-nilai etika yang berarti bagi kehidupannya. Perempuan hidup di dalam masyarakat yang nilai-nilai kefemininnya dianggap remeh dan tidak penting, seluruh eksistensinya sebagai perempuan disubordinasikan. Dalam masyarakat yang patriarkis, seluruh aturan universal berlaku pada sistem "aturan laki-laki" (the law of the father), sifat egois yang berpusat pada kemauan laki-laki sehingga dunia publik menjadi dominasi laki-laki.

Bagi feminisme amatlah jelas, hak-hak perempuan sebagai manusia harus diperjuangkan terlebih dahulu agar ia setara dengan jenis manusia lainnya, bila ini telah tercapai, terwujudlah masyarakat yang adil dan makmur, negara yang merdeka dan demokratis.

Ah, seandainya Soekarno memahami hal ini.

* Gadis Arivia Ketua Yayasan Jurnal Perempuan, staf pengajar Jurusan Filsafat Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) dan Kajian Wanita UI.

soekarno file di kompas

Dari Siti Oetari sampai Yurike Sanger

Dari Siti Oetari sampai Yurike Sanger
Julius Pour


Inggit Garnasih

Fatmawati
Dewi

Yurike Sanger

Haryati
"BANYAK suami menilai istrinya bagaikan mutiara. Tetapi sebenarnya, mereka justru merusak dan tidak menghargai kebahagiaan istrinya? Mereka memuliakan istrinya, mereka cintai sebagai barang berharga, mereka anggap 'mutiara', tetapi sebagaimana orang selalu menyimpan mutiara di dalam kotak, demikian pula mereka menyimpan istrinya dalam kurungan atau 'pingitan'. Bukan untuk memperbudaknya, bukan untuk menghinanya, bukan untuk merendahkannya, begitu katanya. Melainkan untuk menjaga, untuk menghormati, untuk memuliakan. Perempuan mereka anggap sebagai Dewi, tetapi selalu mereka jaga, awasi dan selalu 'dibantu' sehingga menjadi insan yang sampai mati justru tidak akan pernah
bisa menjadi dewasa"Hal ini dikemukakan Soekarno dalam Sarinah, buku yang secara rinci mengemukakan pandangan Bung Karno terhadap perempuan. Bahwa mereka, adalah bagian mutlak perjuangan kemerdekaan, oleh karena itu peran sertanya sejajar dan sangat dibutuhkan.

Sarinah diterbitkan di Yogyakarta tahun 1947, di tengah perang kemerdekaan. Tetapi yang menarik, buku tersebut sengaja ditulis Bung Karno. Sementara kita tahu, hampir semua karyanya pada umumnya berasal dari transkrip pidato dan jarang yang sengaja dipersiapkan sebagai buku. "Atas permintaan banyak orang, apa yang pernah saya kursuskan, kemudian saya tulis dan saya lengkapi, Sarinah inilah hasilnya," katanya dalam pengantar buku.

Awal tahun 1946, akibat tekanan politis dari Pemerintah Belanda yang tidak menghendaki bekas jajahannya merdeka, Pemerintah Republik terpaksa mengungsi dari Jakarta. Dan di Yogya, setiap dua minggu sekali, Bung Karno menyelenggarakan kursus wanita di ruang belakang Istana Kepresidenan. Bahan-bahan kursus, dengan bantuan Mualliff Nasution, sekretaris pribadinya, dikumpulkan, dilengkapi, dan ditulis ulang oleh Bung Karno, dipersiapkan menjadi buku.

Bahwa judul bukunya demikian, alasannya sederhana. "Saya namakan Sarinah, sebagai tanda terima kasih. Ketika masih kanak-kanak, pengasuh saya bernama Sarinah. Ia mbok saya. Ia membantu Ibu saya, dan dari dia saya telah menerima rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya menerima pelajaran untuk mencintai orang kecil. Dia sendiri orang kecil, tetapi budinya besar. Semoga Tuhan membalas kebaikannya."

Sarinah hadir dalam kehidupan Bung Karno sejak tinggal di Mojokerto, Jawa Timur, pertengahan tahun 1917. Sebagaimana dikisahkan melalui Sukarno, An Autobiography as Told to Cindy Adams, dia dilahirkan di Surabaya (1901) dengan nama Kusno. Oleh karena sejak kecil sering sakit, sesuai kebiasaan setempat, ayahnya mencari nama baru, Soekarno. "Karena itu, Soekarno menjadi namaku sebenarnya dan satu-satunya. Pernah ada wartawan goblok menulis nama awalku Ahmad. Sungguh menggelikan. Namaku hanya Soekarno. Dan memang, dalam masyarakat kami, tidak luar biasa memakai satu nama.

Di Mojokerto, Bung Karno kecil tinggal bersama ayahnya, seorang guru, Raden Soekemi Sosrodihardjo. Ibunya, Ida Ajoe Njoman Rai, keturunan bangsawan Bali, dan Sukarmini kakak kandungnya yang dua tahun lebih tua. Sesudah beberapa waktu, datang orang kelima, sosok yang disebutnya, "Bagian rumah tangga kami. Dia tidak pernah kawin, tidur dengan kami, makan apa yang kami makan, tetapi tidak mendapat gaji sepeser pun. Dialah yang mengajarku untuk mengenal cinta kasih, tetapi bukan dalam pengertian jasmaniah. Dan mulai mengajarku mencintai rakyat."

Dengan nada plastis yang digemarinya, Bung Karno melukiskan, "Selagi Sarinah memasak di gubuk kecil dekat rumah, aku selalu duduk di sampingnya. Dia kemudian mengatakan, Karno, yang terutama engkau harus mencintai ibumu. Akan tetapi kemudian engkau harus mencintai rakyat jelata. Engkau harus mencintai manusia pada umumnya."

Bung Karno menambahkan, "Sarinah adalah nama biasa. Akan tetapi, Sarinah yang ini bukan wanita biasa. Ia adalah satu kekuasaan yang paling besar dalam hidupku."


Kurang kasih sayang ibu

Sangat menarik mencermati kedekatan Bung Karno dengan ibunya, sebagaimana pernah dipesankan Sarinah. Ternyata, tidak ada buku atau tulisan yang khusus dipersembahkan Bung Karno kepada ibunya. Dalam otobiografinya, namanya hanya sepintas disebutkan, memberikan pangestu sewaktu Bung Karno masih kecil. Selain itu, sebelum tidur, sering menceriterakan kisah kepahlawanan. Dan semasa perang kemerdekaan, menghardik para gerilyawan yang mencoba menghindari pertempuran.

Bagaimana sesungguhnya keakraban Bung Karno dengan ibunya, dan dengan begitu penghargaannya kepada kaum wanita, sempat menumbuhkan beragam analisis. Kita bisa saja berspekulasi, oleh karena terlampau diagungkan, sosok Sarinah mungkin hanya imajiner. Sulit mencari bukti, apakah Sarinah benar-benar ada. Dan jika demikian, apakah memang begitu besar perannya dalam membentuk kepribadian Bung Karno?

Prof SI Poeradisastra, dalam kata pengantar buku Kuantar ke Gerbang, Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno (terbit tahun 1981) pernah mempersoalkan masalah ini. Ada foto Bung Karno sedang menjumpai ibunya. Dia berlutut di hadapan wanita tua tersebut dengan sangat khidmat. Tetapi, demikian Poeradisastra, dua hal tetap menjadi pertanyaan.

Pertama, mengapa Ida Ajoe tidak pernah menengok putranya, baik ke Jakarta maupun ketika masih berada di Yogyakarta? Hal tersebut tidak dia lakukan, bahkan juga sesudah tahun 1950, sewaktu kedaulatan Republik Indonesia sudah diakui dunia internasional; ketika suasana mulai tenang dan Bung Karno telah dikukuhkan (lagi) sebagai presiden.

Perjalanan ke Jakarta dilakukan hanya saat suaminya wafat di zaman Jepang. Sedangkan sampai sekitar tahun 1950, sewajarnya ibu ini belum terlalu sepuh untuk tidak sanggup mengunjungi putra dan cucunya yang sudah menetap di Istana Negara, Jakarta. Apa yang sebenarnya terjadi?

Kedua, mengapa sampai ada dua monumen kasih sayang dari Bung Karno kepada Sarinah? Buku tentang perjuangan kaum wanita, dan nama toko serba ada pertama di Indonesia. Tetapi, justru tidak ada kenangan khusus untuk Ida Ajoe Njoman Rai?

Atas dasar dua pertanyaan tersebut, Poeradisastra menarik kesimpulan, "Bung Karno adalah penderita kekurangan kasih sayang ibu, sehingga dia akhirnya malah mengidealkan dan mengidolakan Sarinah, sebagai wanita tua yang sepenuhnya memberikan kasih sayangnya."

Dalam impian, "kehilangan" sebuah kasih sayang mungkin saja bisa dipenuhi dengan cara menampilkan sosok Sarinah. Namun, dalam kenyataan sehari-hari, perasaan "kehilangan" tersebut tampaknya baru bisa diperoleh sesudah hadir Inggit Garnasih, induk semang Bung Karno ketika berkuliah di THS Bandung.

Benih cinta pertama

"Aku sangat tertarik kepada gadis-gadis Belanda. Aku ingin sekali mengadakan hubungan cinta dengan mereka," begitu pernyataan Bung Karno. Alasannya sangat luas dan mendasar. Sebagai lelaki tampan yang sejak remaja sangat percaya diri, Bung Karno mengaku, "Hanya inilah satu-satunya jalan yang kuketahui untuk bisa memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih dan membikin mereka tunduk kepada kemauanku."

Mungkin saja semua pernyataan tersebut benar. Tetapi juga mungkin, daya khayal Bung Karno sangat melambung. Oleh karena dia kemudian mengungkapkan, cinta pertamanya tertuju kepada Pauline Gobee, anak gurunya. Kemudian muncul deretan nama, semuanya gadis keturunan Belanda, yakni Laura, Raat, Mien Hessels.

Bagaimanapun, sesuatu yang semula mungkin belum sempat dia bayangkan, hidup perkawinan justru sudah dimulai Bung Karno ketika usianya belum genap 20 tahun. Tahun 1921, di Surabaya, dia menikah dengan Siti Oetari, gadis usia 16 tahun, putri sulung tokoh Serikat Islam, Haji Oemar Said Tjokroaminoto, pemilik rumah tempatnya menumpang ketika dia di sekolah lanjutan atas. Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Tjokroaminoto, ayah mertuanya, membantu mencarikan tempat indekos dengan menghubungi teman lamanya, Sanusi, seorang guru.

Bencana sering datang bagai pencuri, mendadak dan tidak terduga. Begitu Bung Karno tiba di Bandung, dijemput Sanusi di stasiun dan langsung diajak ke rumahnya, api gairah sudah mulai menyala. "Sekalipun aku belum memeriksa kamar, tetapi jelas ada keuntungan tertentu di rumah ini. Keuntungan utama justru berdiri di pintu masuk dalam sinar setengah gelap. Raut tubuhnya tampak jelas, dikelilingi oleh cahaya lampu dari arah belakang. Perawakannya kecil, sekuntum bunga cantik warna merah melekat di sanggul dengan senyum menyilaukan mata. Namanya Inggit Garnasih, istri Haji Sanusi."

Menurut Bung Karno, "Segala percikan api yang memancar dari anak lelaki berumur dua puluh tahun, masih hijau dan belum punya pengalaman, telah menyambar seorang perempuan dalam umur tiga puluhan tahun yang matang dan berpengalaman." Percikan gairah tersebut tidak hanya berhenti membakar Bung Karno. Secara bersamaan menghanguskan simpul tali perkawinan yang baru satu tahun dia jalani. Meskipun alasannya, kata Bung Karno, "Oetari dan aku tidak dapat lebih lama menempati satu tempat tidur, bahkan satu kamar pun tidak. Jurang antara kami berdua semakin lebar. Sebagai seseorang yang baru saja kawin, kasih sayangku kepadanya hanya sebagai kakak."

Siti Oetari dicerai dan dikembalikan kepada Tjokroaminoto. Sementara itu, menurut Bung Karno, Sanusi adalah seorang tukang judi yang setiap malam terus-menerus menghabiskan waktunya di tempat bilyar. Maka mudah diduga apa yang bakal terjadi, "Aku seorang yang sangat kuat dalam arti jasmaniah dan pada hari-hari itu belum ada televisi. Hanya Inggit dan aku berada di rumah yang selalu kosong. Dia kesepian. Aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Perkawinanku tidak betul. Adalah wajar, hal-hal yang demikian itu kemudian tumbuh".

Apa pun alasannya sehingga mereka berdua menjadi dekat, Poeradisastra tetap menilai Inggit Garnasih seorang wanita luar biasa. "Kekasih satu-satunya yang mencintai Soekarno tidak karena alasan harta dan takhta, yang selalu memberi dan tidak pernah meminta kembali. Satu-satunya wanita yang bersedia menemani Soekarno dalam kemiskinan dan kekurangan."

Ditambahkannya, "Saya harus meminta maaf sebesar-besarnya kepada semua janda Soekarno, dengan segala jasa dan segi positifnya masing-masing. Tetapi saya harus mengatakan bahwa hanya Inggit merupakan tiga bentuk dalam satu kepribadian, yakni ibu, kekasih, dan kawan yang selalu memberi tanpa pernah meminta. Kekurangannya, Inggit tidak melahirkan anak."

Inggit Garnasih lebih tua 15 tahun dari Bung Karno sehingga lebih dewasa dalam bersikap ketika menghadapi saat-saat gawat. Wanita Sunda ini bagaikan induk ayam yang sayapnya selalu siap memberi perlindungan. Janda cerai selama empat bulan tersebut kemudian menikah dengan Bung Karno pada pertengahan tahun 1923.

Selama 20 tahun hidup perkawinannya bersama Bung Karno, dengan setia dia menjenguk suaminya ketika disekap di Penjara Sukamiskin. Dengan kesetiaan luar biasa mengikuti suaminya menjalani pengasingan di Flores, sambil mengajak ibu dan dua anak angkatnya. Asmi, ibu mertua Bung Karno, tutup usia ketika mendampingi menantunya di tempat pembuangan.

Memulai hidup baru lagi

Ada sebuah kalimat bersayap, hidup dimulai pada usia 40 tahun. Pada usia tersebut Bung Karno mungkin ingin merintis hidup baru, dengan memakai alasan sangat mendasar, soal anak.

Dengan kebesaran jiwa yang sulit dicari bandingannya, Inggit akhirnya menyerahkan Bung Karno kepada Fatmawati, bekas putri angkatnya dalam masa pembuangan di Bengkulu. Gadis yang ternyata berani dan bahkan sudah menjalin kasih sayang dengan ayah angkatnya, dan yang kemudian menjadi istri dari bekas suami ibu angkatnya.

Bencana dimulai dengan kedatangan Hassan Din bersama istri dan putrinya, Fatmawati, untuk mencari tempat indekos di Bengkulu. Secara kebetulan usia anak gadis tersebut sepadan dengan Ratna Djuami, anak angkat Bung Karno. Maka hari itu juga, Fatmawati langsung ditinggal pulang dan diserahkan pengawasannya kepada pasangan Bung Karno-Inggit. Pesona Fatmawati dilukiskan oleh Bung Karno, "Rambutnya seperti sutera di belah tengah dan menjurai ke belakang berjalin dua. Dengan senang hati aku menyambutnya sebagai anggota baru keluarga kami." Sesudah beberapa waktu tinggal bersama, Bung Karno berkomentar, "Aku senang terhadap Fatmawati. Kuajari dia bermain bulu tangkis. Ia berjalan-jalan denganku sepanjang tepi pantai yang berpasir, sementara alunan ombak berbuih putih memukul-mukul mata kaki."

Dalam perjalanan waktu, hubungan mereka semakin bertambah erat. Meskipun, menurut Bung Karno, "Apa yang ditunjukkan Fatmawati kepadaku adalah sekadar pemujaan kepahlawanan. Umurku lebih 20 tahun dari padanya dan dia memanggilku Bapak. Bagiku dia hanya seorang gadis yang menyenangkan, salah seorang dari anak-anak yang selalu mengelilingiku untuk menghilangkan kesepian yang mulai melarut dalam kehidupanku. Yang kuberikan kepadanya kasih sayang seorang bapak."

Walau disembunyikan, akhirnya Inggit menyadari terjadinya percikan bunga-bunga cinta. "Aku merasa ada sebuah percintaan sedang menyala di rumah ini. Sukarno, jangan coba-coba menyembunyikan diri. Seseorang tidak bisa berbohong dengan sorot matanya."

Bung Karno masih mencoba berkilah, "Jangan begitu. Dia itu tidak ubahnya seperti anakku sendiri."

Inggit mengingatkan, "Menurut adat kita, perempuan tidak rapat kepada laki-laki. Kebiasaan anak gadis lebih rapat kepada si ibu, bukan kepada si bapak. Hati-hatilah, Engkau harus mendudukkan hal ini menurut cara yang pantas."

Bung Karno kemudian semakin sadar, "Fatmawati sudah menjadi perempuan cantik. Umurnya sudah 17 tahun dan ada kabar akan segera dikawinkan. Usia istriku mendekati usia 53 tahun. Aku masih muda, kuat dan sedang berada pada usia utama dalam kehidupan. Aku ingin anak, istriku tidak dapat memberikan. Aku menginginkan kegembiraan hidup, Inggit tidak lagi memikirkan soal-soal demikian"

Menurut versi Bung Karno, dengan cara sopan dia sudah pernah mengajukan izin untuk bisa menikahi Fatmawati. Dalam buku Kuantar ke Gerbang, karya Ramadhan KH berdasar wawancara dengan Inggit Gar-nasih, Bung Karno sambil menahan tangis bertanya, "Bukankah aku bisa mengawininya, sementara kita tidak usah bercerai?"

"Oh, dicandung? Ari kudu dicandung mah, cadu. (Oh dimadu? Kalau harus dimadu, pantang aku)," jawab Inggit sengit. "Boleh saja kau kawin, tetapi ceraikan diriku lebih dulu."

Akhirnya Bung Karno menceraikan Inggit setelah Jepang menduduki Indonesia dan mereka berdua pulang ke Jawa. Pada bulan Juni 1943, Bung Karno kawin dengan Fatmawati memakai cara nikah wakil, sebab mempelai putri masih tertinggal di Sumatera. Bulan November 1944, lahir putra pertama, Mohammad Guntur. Bung Karno langsung mengucapkan syukur, "Aku tidak sanggup melukiskan kegembiraan yang diberikan kepadaku. Umurku sudah 43 tahun dan akhirnya, Tuhan Maha Pengasih mengkaruniai kami seorang anak."

Menyembunyikan nama istri

Dalam autobiografinya yang terbit bulan November 1965 tetapi dikerjakan Cindy Adams sejak tahun 1963, Bung Karno mengungkapkan semua kisah perkawinannya, mulai dari Oetari, Inggit, Fatmawati sampai ke Hartini. Tetapi, melarang dicantumkannya kisah pernikahan dengan Naoko Nemoto (Maret 1962), Haryati (Mei 1963), dan Yurike Sanger (Agustus 1964).

Nama Dewi dan Haryati baru muncul dalam buku kedua Cindy Adams, terbit tahun 1967 dengan judul, My Friend the Dictator. Oleh karena itu buku tersebut juga masih melupakan Yurike Sanger, pelajar SMA berusia 16 tahun, bekas anggota "pagar ayu" Barisan Bhinneka Tunggal Ika. Kepada Majalah Swara Kartini, Yurike sempat mengungkapkan bahwa Bung Karno pernah berjanji kepadanya, "Adiklah, istri Mas yang terakhir".

Di antara semua pernikahannya, yang kemudian memicu persoalan justru ketika menikahi Hartini. Wanita asal Ponorogo kelahiran tahun 1924 ini mengungkapkan, bertemu pertama dengan Bung Karno tahun 1952 di kota tempat tinggalnya, Salatiga, Jawa Tengah. "Bapak langsung menyatakan sangat tertarik kepada diri saya." Malahan ketika diberi tahu bahwa sudah punya lima orang anak, muncul komentar spontan, "Benar, sudah lima orang anak dan masih tetap secantik ini?"

Cinta pandangan pertama tersebut muncul seketika, dan Bung Karno menyebutkan, "Aku jatuh cinta kepadanya. Dan kisah percintaan kami begitu romantis sehingga orang dapat menulis sebuah buku tersendiri mengenai hal tersebut." Jatuh cinta bisa terjadi kapan dan di mana saja. Tetapi, yang kemudian menyulut reaksi pro-kontra, khususnya di kalangan wanita pada masa itu, oleh karena Bung Karno masih terikat perkawinan dengan Fatmawati, sementara status Hartini, ibu rumah tangga dengan lima orang anak.

Suasananya lebih diperburuk oleh karena secara kebetulan Dewan Perwakilan Rakyat sedang membicarakan Keputusan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1952 untuk mengatur tunjangan pensiun bagi janda pegawai negeri. Isu paling utama, bagaimana pembayaran gaji dilakukan jika istri pegawai negeri lebih dari satu? Isu ini kemudian mengangkat persoalan, apakah seorang pegawai negeri boleh mengambil istri baru? Dan kalau diizinkan, bagaimana persyaratannya?

Dengan munculnya isu itu, sejumlah ormas wanita penentang keputusan pemerintah melakukan unjuk rasa dan mengirim delegasi ke berbagai pihak. Termasuk menghadap Presiden Soekarno, yang saat itu sedang menjalin percintaan backstreet dengan Hartini. Mereka meminta Presiden memberi teladan dan ikut memperjuangkan lahirnya sebuah undang-undang perkawinan yang adil, sebagaimana dulu semangatnya pernah disebutkan Bung Karno dalam buku Sarinah. Para pimpinan ormas wanita tersebut mengemukakan, seandainya Presiden menghendaki poligami, minimal dia wajib untuk mengikuti ketentuan hukum Islam dan harus meminta persetujuan istri pertama lebih dahulu.

Ketegangan antara Bung Karno dengan ormas-ormas wanita penentang poligami mencapai puncaknya ketika Fatmawati, berkat dukungan kuat dari sebagian besar ormas wanita memutuskan "meninggalkan Istana Negara dan memulai kehidupan baru, terpisah dari suaminya."

Dilengkapi tekad Bung Karno yang tampaknya sudah tidak bisa disurutkan, setelah menjalin cinta gelap antara Jakarta-Salatiga, bulan Juli 1953, Bung Karno menikah dengan Hartini di Istana Cipanas. Bertindak sebagai wali nikah, oleh karena Bung Karno tidak bisa hadir, komandan pasukan pengawal pribadi Presiden, Mangil Martowidjojo.

Bung Karno mengungkapkan, "Fatmawati sangat marah atas perkawinan ini. Sebetulnya dia tidak perlu marah. Istriku pertama dan juga yang kedua adalah pemeluk Islam yang saleh serta menyadari hukum-hukum agama." Ditambahkannya, "Aku tidak menceraikan Fatma karena anak kami sudah lima orang. Bagi orang Barat, mengawini istri kedua selalu dianggap tidak beradab, tidak sopan dan tindakan kejam."

Sayang, Bung Karno ternyata tidak hanya berhenti sampai kepada istri kedua. Cindy Adams tanpa sengaja bertemu Haryati di Istana Tampaksiring, Bali, semasa mengikuti kunjungan Presiden Filipina Diosdado Macapagal. Tampaknya, Haryati waktu itu sudah lebih dulu dikirim ke Bali untuk mendahului rombongan resmi.

Haryati menjelaskan, "Kami menikah di Jakarta bulan Mei 1963 dan Bapak berpendapat, sangat bijaksana kalau pernikahan ini tidak usah diumumkan kepada masyarakat luas. Kami berdua saling mencintai, tetapi menghadapi berbagai kesulitan. Selain itu, Bapak sudah mempunyai tiga istri dan usianya sekarang 63 tahun, sedangkan saya baru
23 tahun." Kesulitan semacam ini tidak hanya menimpa Haryati. Oleh karena situasi serupa juga pernah dijalani Ratnasari Dewi. Dalam My Friend the Dictator, Dewi mengungkapkan, "Saya dikenalkan kepada Bapak di Hotel Imperial Tokyo oleh para rekan bisnis dari Jepang". Pertemuan pertama tersebut membawa kesan sangat dalam. Tidak lama kemudian, Bung Karno mengundangnya ke Jakarta, untuk bertamasya selama dua minggu.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan perkawinan pada awal Maret 1962, setelah Naoko Nemoto pindah agama dan Bung Karno memilihkan nama sangat indah, Ratnasari Dewi. Tetapi perkawinan tersebut membawa korban. Ibu Naoko, seorang janda, kaget dan langsung meninggal mendengar putrinya menikah dengan orang asing. Disusul hanya 26 jam sesudahnya, Yaso, saudara lelaki Naoko, melakukan bunuh diri. "And I was so alone. I had lost my whole family."

Dewi menjelaskan, "Mengingat situasi serba tidak menguntungkan, mengambil orang asing sebagai istri baru, maka selama beberapa waktu pernikahan kami disembunyikan. Saya merasa sangat tersiksa, harus selalu sendirian dan bersembunyi di rumah. Satu-satunya kegembiraan, Bapak sangat memperhatikan segala macam keperluan saya. Bapak menyulutkan rokok saya, Bapak dengan setia membawakan buah-buahan."

Kelemahan dan kekuatan

Tulisan ini bukan untuk menunjukkan kelemahan kepribadian Bung Karno sebagai seorang lelaki. Tetapi ingin mengungkapkan betapa kemudian Bung Karno melupakan pesan Sarinah, semakin berani menyerempet bahaya, dan bahkan, melalaikan persyaratan aturan perkawinan menurut hukum Islam. Ketika otobiografi Bung Karno terbit, para istri Bung Karno kecewa. Hartini sangat marah, sebab namanya hanya muncul selintas, sedangkan Inggit dan Fatmawati diceriterakan panjang lebar.

Ratnasari Dewi bahkan sempat mengamuk, hanya karena namanya sama sekali tidak disebut. Yang justru paling senang dengan buku tersebut adalah Bung Karno, oleh karena dia langsung memerintahkan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesia.

Tidak ada malaikat di antara manusia, setiap orang memiliki kelemahan dan kekurangan. Wanita pada satu sisi merupakan titik lemah Bung Karno, tetapi di sisi lain sesuatu yang mampu memberikan gairah dan semangat hidup. "I'm a very physical man. I must have sex every day," katanya dengan kebanggaan meluap kepada Cindy Adams.

Maka, sebuah kelemahan bisa berubah menjadi kekuatan, tergantung kepada situasi dan kondisi yang dihadapi. Tetapi ketika usianya sudah semakin lanjut, dilengkapi keruwetan pribadi akibat semakin kompleksnya pengaturan jadwal oleh karena yang harus dikelolanya semakin banyak, ketajaman analisis yang selama ini dimiliki Bung Karno mulai tumpul.

Akan tetapi, seberapa besar minus nilai Bung Karno sebagai lelaki, sama sekali tidak menghilangkan perannya sebagai pejuang kemerdekaan. Dan juga tidak akan melenyapkan sumbangannya dalam memimpin perjuangan untuk kemerdekaan bangsa dan Tanah Airnya, Indonesia, yang sangat dicintainya.

Mengamati perjalanan Bung Karno-sebagai akibat masa kecil yang mungkin kurang bahagia-dia berusaha mengimbangi dengan mengembangkan daya khayal sangat dahsyat. Khayalan tersebut tercipta dengan hadirnya sosok Sarinah; seorang wanita yang jauh lebih tua, lebih matang sekaligus punya kemampuan melindungi dan memberikan selimut kehangatan kepada batin Bung Karno. Oleh karena itu menjadi jelas, mengapa perkawinannya dengan Siti Oetari hanya bertahan kurang dari dua tahun. Kekosongan tersebut kemudian dipenuhi Inggit Garnasih, wanita sederhana yang rela mengabdi dengan sepenuh jiwa raganya.

Sering orang mempersoalkan, derita Bung Karno jauh lebih ringan dibanding para pejuang kemerdekaan Indonesia lainnya. Mereka diasingkan ke Digul atau Banda, sementara Bung Karno "hanya" ke Flores dan Bengkulu. Tetapi, di Digul atau Banda, mereka tidak terpencil, karena ada ratusan atau paling tidak sejumlah rekan lain dengan semangat dan daya nalar setara. Di sisi lain, Bung Karno harus tinggal sendirian, tanpa ada teman dengan tingkat intelektual sepadan di sekitarnya. Sungguh beruntung, dalam kesendirian tersebut di sampingnya tetap hadir Inggit Garnasih.

Sesudah Inggit terpaksa dan dipaksa surut ke belakang, frekuensi "ketergelinciran" Bung Karno semakin sering terjadi. Bung Karno yang merasa tetap perkasa, semakin tua justru semakin tambah percaya diri. Malahan mungkin merasa tidak memerlukan sayap pelindung, yang selama ini tanpa dia sadari menghangatkan batinnya.

Ia mengkhayalkan dirinya burung rajawali yang sanggup terbang sendirian menjelajah angkasa luas. Ia mungkin lupa, dalam kekosongan jiwa, rajawali tersebut telah merapuh, tidak ubahnya burung pipit yang selalu harus berusaha mencari perlindungan.

* Julius Pour Wartawan Kompas.

soekarno file di kompas

Tuesday, October 09, 2007

The Voice Inside My Heart lyrics


Artist - Patti Labelle
Album - Various Songs
Lyrics - Voice Inside My Heart


Walking underneath the moonlit sky
I'm alone tonight
Every stranger that I pass
is stranger than the last
I leave them all behind

Nothing they say can turn me away
I keep going, Cause I know
You are the Voice inside my heart
I always hear, reminding me
What matters in this life

Like an Angel, I can see your face
Right before my eyes
Yes, I can almost read your thoughts
And that's what keeps me breathing
and believing we are alright

I don't know when I will see you again
But your with me, your forever be
The voice inside my heart
I always knew reminding me
What matters in this life

Whenever we're apart
I think of you and listen to
The voice inside my heart
Stay with me, whisper in my ear
You and I will always be together
Forever, your the voice inside my heart

My guiding light, what matters in this life
Whenever we're apart, I think of you
and listen to the voice inside my heart
No matter where you are
I am with you, your always here
The voice inside my heart
Whisper in my ear
The voice Inside My Heart

Friday, September 28, 2007

reuni led zeppelin

reuni led zeppelin
Menunggu 26 November

budiarto shambazy

Tanggal 26 November 2007 akan tercatat sebagai salah satu hari penting dalam sejarah musik rock 1970-an. Pada tanggal itulah Led Zeppelin mengadakan konser reuni di O2 Arena, London, dalam rangka memperingati jasa produser legendaris Atlantic Records, almarhum Ahmet Ertegun.

Konser reuni merupakan hal biasa yang belum lama ini juga dilakukan oleh band-band raksasa tahun 1970-an seperti The Police. Namun, Zeppelin bukan sembarangan band. Mereka perintis aliran heavy metal yang beranak-pinak sampai kini dan memelopori kelahiran kultur head banging yang amat berisik namun tetap populer sampai sekarang.

Dan yang terpenting, jika diadakan voting penggemar, Zeppelin mungkin terpilih sebagai satu-satunya band yang pantas menyandang status "supergroup". Alasannya sederhana, yakni Zeppelin penerus supergroup The Yardbirds yang jadi Kawah Candradimuka bagi tiga gitaris top kala itu: Eric Clapton, Jimmy Page, dan Jeff Beck.

Ketika konser diumumkan 12 September lalu, sekitar 20 juta penggemar langsung menyerbu situs penjual tiket—lebih dari sejuta memesan tiket. Setiap menit rata-rata ada 80.000 orang yang mengunjungi situs Ahmet Ertegun sampai lumpuh (crashed). Situs O2 Arena juga lumpuh karena terlalu banyak dikunjungi peminat.

Hasil undian siapa yang berhak atas tiket diumumkan 1 Oktober. Tiket konser dijual melalui sistem lotre karena jumlah yang tersedia hanya 20.000 lembar dengan harga 125 poundsterling (sekitar Rp 2,3 juta). Setiap calon penonton yang wajib mengisi alamat dibatasi hanya boleh membeli maksimal dua tiket saja.

Konser menghadirkan vokalis Robert Plant alias "Percy", Page alias "Pagey", dan pemetik bas John Paul Jones alias "Jonesy". Posisi drum orisinal almarhum John "Bonzo" Bonham diisi oleh putranya sendiri, Jason Bonham.

Sementara artis lain yang ikut serta dalam konser itu mantan pemetik bas Rolling Stones, Bill Wyman, bersama band yang dia pimpin, Rhytm Kings. Juga akan tampil gitaris The Who, Pete Townshend, dan kemungkinan juga vokalis Stones, Mick Jagger. Selain itu, ada band Foreigner dan vokalis Paolo Nutini.

Adalah seorang promotor top, Harvey Goldsmith, yang berhasil membujuk ketiga mantan personel Zeppelin untuk tampil di panggung. Menurut Goldsmith, partisipasi Jason Bonham juga jadi faktor terwujudnya konser ini. "Saya menulis surat kepada mereka, ’ini kesempatan bagi Anda untuk bersama kembali dan mengenang jasa mentor Anda dan saya, dan apakah Anda mau melakukannya?’" ungkap Goldsmith.

Tambah konser

"Dan saya terkejut karena mereka membalas dan menjawab ’ya’. Adalah jelas anggota keempat band adalah John Bonham yang sudah lama wafat. Namun, ada anaknya, Jason, yang merupakan drumer hebat yang juga jadi katalisator terwujudnya konser ini," tambah Goldsmith.

"Menurut saya ketika John meninggal dunia mereka merasa Led Zeppelin sudah selesai. Untungnya kini ada kesempatan bagi mereka untuk bergabung kembali. Cara dia bermain yang mendekati kualitas ayahnya membuat Anda ibarat mendengarkan kembali Zeppelin," katanya lagi.

Ertegun adalah produser yang menggaet Zeppelin ke label Atlantic Records. Ia meninggal dunia tahun lalu beberapa pekan setelah terjatuh saat menyaksikan konser Rolling Stones. "Kami amat terpukul tatkala orang pertama yang berjasa bagi kami, Ahmet Ertegun, meninggal dunia. Kami semua langsung sepakat dengan konser yang bertujuan mau mengenang jasanya," tutur Percy.

Goldsmith meramalkan bukan tak mungkin Zeppelin, yang menjual lebih dari 300 juta keping album, menambah tanggal konser. "Jika mereka menikmati konser 26 November, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi. Mereka memiliki karier masing-masing, konser seperti ini tak ubahnya memulai kembali sebuah pernikahan. Saya berharap mereka melakukannya lagi, tetapi jika mereka menikmatinya," kata Goldsmith.

Setelah John Bonham meninggal dunia tahun 1980, Zeppelin sempat dua kali reuni di panggung, yakni di konser Live Aid di Philadelphia, Amerika Serikat, tahun 1985 dan perayaan ulang tahun Atlantic Records tahun 1988. Konser di Live Aid dianggap kurang maksimal karena berbagai alasan teknis, sementara konser 1988 hanya disaksikan audiens yang jumlahnya amat terbatas.

Zeppelin dikenal sebagai grup anti-singel meski beberapa hit mereka meledak di mana-mana seperti Stairway to Heaven, Kashmir, Whole Lotta Love, Rock ’n' Roll, Nobody’s Fault But Mine, dan Communication Breakdown. Dalam rangka menyambut konser reuni nanti, situs musik Gigwise melakukan jajak pendapat lagu terbaik Zeppelin dan hasilnya 21 persen dari 2.000-an penggemar memilih The Ocean.

Stairway to Heaven ada di urutan kedua dengan 16%, diikuti Kashmir (8%), Since I’ve been Loving You (7%), dan Whole Lotta Love (5%). Beberapa lagu yang tak tersedia pada jajak pendapat namun tetap dipilih penggemar antara lain Nobody’s Fault, Trampled Under Foot, dan Over the Hills and Far Away.

Dalam periode 1969-1979 Zeppelin merilis delapan album studio: Led Zeppelin (1969), Led Zeppelin II (1969), Led Zeppelin III (1970), ZoSo (1971), Houses of the Holy (1973), Physical Graffiti (1975), Presence (1977), dan In Through the Out Door (1979). Album kedua sampai ke-8 menduduki peringkat pertama baik di Inggris maupun di Amerika Serikat—sebuah rekor yang tak tertandingi artis lain.

Sudah banyak yang berspekulasi tentang susunan lagu yang akan disajikan Zeppelin dalam konser yang diperkirakan akan berlangsung sekitar dua jam. Apakah Pagey akan memainkan gitar berleher dua EDS yang khas itu? Bagaimana Percy mengakali kualitas suaranya yang sudah menurun dan apakah Jason Bonham sedahsyat ayahnya? Banyak yang tak sabar menunggu datangnya tanggal 26 November.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/26/Musik/3834715.htm

Wednesday, September 19, 2007

Tuesday, July 24, 2007

Thursday, July 19, 2007

Orang Asia Melihat dengan Cara Berbeda

Jakarta, Rabu, 24 Agustus 2005, 15:38 WIB
Orang-orang Asia ternyata melihat dunia dengan cara berbeda dibanding orang Amerika Utara atau orang Barat. Demikian hasil penelitian para ilmuwan dari Universitas Michigan.

Para peneliti menemukan, ketika diperlihatkan sebuah foto, para siswa Amerika Utara yang berlatar belakang Eropa memberi perhatian lebih pada objek di bagian muka foto, sementara siswa dari China menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengamati latar belakang pemandangan dalam foto dan mempelajari gambar secara keseluruhan.

Para peneliti yang dipimpin Hannah-Faye Chua dan Richard Nisbett, mengikuti gerakan mata para siswa - 25 orang Eropa Amerika dan 27 orang China - untuk menentukan bagian apa yang mereka lihat dalam foto dan berapa lama mereka fokus pada satu titik tertentu.

"Hasilnya, mereka ternyata melihat dunia dengan cara berbeda," kata Nisbett, yang yakin perbedaan ini berakar pada masalah budaya.

"Orang Asia hidup dalam dunia sosial yang jauh lebih kompleks dibanding orang Amerika," ujarnya. "Mereka lebih memperhatikan orang lain dan lingkungannya dibanding kita (orang Amerika). Kita lebih individualis."

Temuan ini dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences edisi Selasa.

Kunci dalam kebudayaan China adalah harmoni, keselarasan, demikian kata Nisbett. Sedangkan di Barat kuncinya adalah bagaimana menemukan cara untuk menyelesaikan sesuatu, sehingga orang Barat kurang memperhatikan hal-hal lain. Orang Asia melihat sesuatu secara keseluruhan, sedangkan orang Barat fokus pada satu hal.

Ini, menurutnya, kembali pada kehidupan ekologi dan ekonomi ribuan tahun lalu.

Di jaman China kuno, para petani mengembangkan sebuah sistem pertanian irigasi. Petani padi harus bekerja sama untuk berbagi air dan memastikan tidak ada yang merugi atau berbuat curang.

Kebiasaan orang Barat, di lain pihak, berkembang sejak jaman Yunani kuno, dimana orang-orang menjalankan pertanian individu, menanam anggur dan minyak zaitun, lalu mengelolanya sebagai bisnis pribadi.

Dari sini sudah terlihat bahwa perbedaan persepsi itu telah muncul sejak 2.000 tahun lalu.

Aristoteles, misalnya, lebih fokus ke obyek. Ia melihat batu tenggelam di air karena gravitasi dan berat jenisnya besar, sedangkan kayu terapung karena berat jenisnya lebih kecil dari air. Namun peneliti ini tidak terlalu memperhatikan air.

Sedangkan orang China menganggap segala sesuatu berkaitan dengan lingkungan sekitarnya. Itulah sebabnya mereka lebih memahami gelombang dan magnetisme jauh sebelum orang-orang Barat.

Nisbett menggambarkan ini dengan suatu ujian dimana ia meminta orang-orang Jepang dan Amerika memandang foto pemandangan bawah air lalu melaporkan apa yang mereka lihat.

Hasilnya, orang-orang Amerika akan langsung fokus pada objek-objek paling mencolok dan yang bergerak paling cepat, seperti tiga ikan trout yang berenang. Sedangkan orang-orang Jepang lebih banyak bercerita bahwa mereka melihat arus air, warna air yang hijau, ada bebatuan di dasar, baru kemudian menceritakan ikannya.

Orang-orang Jepang itu memberi informasi latar belakang 60 persen lebih banyak dibanding orang Amerika. Mereka juga memiliki informasi mengenai hubungan antara latar belakang dengan objek-objek lain dua kali lebih banyak dibanding peserta Amerika.

Dalam tes lain, para peneliti mengikuti gerakan mata orang Asia dan Amerika ketika mereka melihat suatu gambar.

Orang Amerika segera melihat objek di latar depan - seekor macan tutul di hutan - dan mereka memandangnya lebih lama. Orang China lebih banyak menggerakkan matanya, terutama ke latar belakang. Pandangan mereka maju dan mundur antara objek utama dengan latarnya, seolah mencari hubungan dan keselarasannya.

Nah, kembali ke masalah budaya, penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa budaya memang mempengaruhi cara pandang seseorang. Ketika para peneliti menguji orang-orang Asia yang dibesarkan dengan cara Barat, maka mereka berada pada posisi tengah-tengah antara cara orang Asia memandang dengan cara Amerika. Mereka kadang bahkan lebih condong ke cara Amerika saat memperhatikan gambar.

Ini menunjukkan bahwa budaya mempengaruhi proses persepsi seperti bagaimana seseorang mengendalikan gerakan matanya. Artinya, bagaimana seseorang melihat dunia ternyata tergantung pada cara mereka dibesarkan dan dari mana mereka berasal.

http://www.kompas.com/teknologi/news/0508/24/153857.htm

Wednesday, June 06, 2007

Sondre Lerche - Two Way Monologue

Ma
All the other options that you had in mind stun me
'Cause I'm optionless and turkey-free and blind

Pa
Won't you listen and I'll let you in on this
Blind me
Won't you listen and I'll reduce advice to dust
Oh no
I shouldn't have to spell my name

Ma
If it's worth the made up smiles, the quiet fights
Oh, mother
It is hard not to look in the mirror's eye
I have come to this while you have come along
So it's alright if you change your mind the other way around again
I shouldn't have to spell my name

So start the two way monologues that speak your mind
We're talking two way monologues with words that rhyme

We
We can't reclaim the shirts we threw away last twirl
Uncurl the note-in-pocket, personal brochures that dust
Machine-washed, that's how paper rusts

Days you spend wanting some of Michael Landon's grace
strike back, now they shape your life as stony as his face
Oh no
I shouldn't have to spell his name

So start the two way monologues that speak your mind
We're talking two way monologues with words that rhyme
Start the two way monologues that speak your mind
We're talking two way monologues

We were chasing rabbits on the hill
Oh that prairie-life was great, but never real
'Cause we never saw no rabbits out there, ever, no, not once
All we did was put a fire up and watch it burn for months
I miss the sound of stairs and walls and maladjusted doors
and too little space for holding all the soldiers and the war

Start the two way monologues that speak your mind
Start the two way monologues that speak your mind
We're talking two way monologues

Monday, June 04, 2007

Berpisah - KerisPatih

KerisPatih - Berpisah

Berpisah - KerisPatih

Ku tahu ini jalan yang terbaik untuk kita
Meski harus sakitnya terasa menikam jiwa
Untuk berpisah denganmu
Dan hilangkan semua rasa yang ada
Tak pernah terpikir olehku

Reff:
Lupakan saja cerita kita
Yang mungkin pernah tertanam dalam hati
Memang tak mudah berlari jauh
Meninggalkan manis senyummu

Kau yang pernah singgah di hatiku memberi damai
Namun perbedaaan antara kita memupuskan itu
Kini ku jauh darimu mencoba melawan hasrat yang ada
Sungguh tak terfikir olehku

Bridge:
Tapi kusadar yang ada, hanya bayang semu dirimu

Thursday, April 05, 2007

Soulmate

Entahlah, apa pengaruh masa lalu atau pengalaman buruk[pergaulan buruk kali ya... hehehe..]
rasanya kok rada susah untuk bisa jatuh cinta lagi dengan siapapun di alam semesta ini.
Lebih dari 8 kali aku pernah suka dengan orang yang salah, salah perasaan kali ya.
Masalahnya kebeberapa orang yang bersangkutan uda punya cowo. Sebenarnya aku dak peduli
awalnya, tapi akhirnya aku dapatkan mereka juga, ah... masa iya sih.

Perasaan bersalah dalam hati campur aduk kayak es campur, entahlah... yang jelas kenapa
mereka ninggalin pacar-pacarnya untuk sementara, dan asyik masyuk denganku untuk semetara pula, untuk sementara pula aku tak punya argumen yang pasti menjawabnya.
Sebenarnya aku model klasik yang susah jatuh cinta, tapi terkadang ego dan harga diri yang
membuatku runtuh dengan tak mau disebut JOMBLO atau dak laku, hahaha.... Dan poinnya aku bukanlah tipe orang yang gampang jatuh cinta dan obral cinta seperti PLAYBOY[kata para
bule]. Setelah dengan berbagai skenario akhirnya aku dipustuskan juga kok dan mereka kembali ke pelukan cowonya masing-masing, dan syukur setengah dari mereka uda pada nikah, aku bebas dari rasa bersalah.

Ah.. sampai kapan aku begini, dan sejujurnya aku dak menikmatinya dan merasa ada ganjalan
serta kegalauwan yang tak kunjung abisnya. Beberapa hari lalu aku kenalan dengan cewe dengan predikat sama seperti diatas, awalnya harus aku akui kalau aku simpati dan suka, tapi
masalahnya uda punya gandengan. Terulang lagi deh...
Rasanya ingin menahan langkahku untuk berbuat lebih jauh apa daya tak kuasa menahannya,

Fisik[good looking] atau materi[gaji ratusan juta] tak kumiliki, lalu apa yang mereka
dapatkan dariku gerutuku dalam hati, sampai aku menuliskan ini dalam blog ini.
Namun satu yang pasti, ada satu ruang hampa dalam hatiku yang tak terisi oleh apapun yang
selalu kosong dan entah kapan akan terisi. Mungkin kalau ada groupies orang-orang
seperti-ku, aku akan ikuti mereka dan boleh curhat sana-sini sambil konseling[ada dak ya].
Semakin mengerti arti cinta rasanya semakin ribet[pabelieut kata wong sunda] rasanya
jalan-jalan yang kulalui. Oh Tuhan seandainya yang mengisi ruang hampaku belum juga lahir,
tolong cepat ciptakan dia ke bumi ini, seandainya dia masih tersesat di belantara alam
semesta ini tolong beri petunjuk untuk menemukannya, atau kalau dia telah tiada tolong ganti
dengan yang baru.

Hei waktu, maukah kau bersahabat denganku, dengan mengisi hari-hari penuh keindahan tanpa sesal. Pencapaian suatu target atau cita-cita dak bisa menggantikan ruang hampa itu, namun
hidup bukankah terus berlanjut tanpa kompromi, dan parahnya terkadang kita butuh pengakuan dunia ini atau dunia yang perlu aku akui ya ... hahahaha.
Habiskan waktu dengan kesibukan tertentu juga dak bisa gantikan itu.

Dulu seorang teman cewe pernah bilang, arti SOULMATE, sejujurnya aku rada ngeri juga dengarnya, tapi pengertiannya membuatku MENGKERUT, belahan jiwa kira-kira begitu artinya. aku renungkan artinya, wah aku dapat dak ya. Suatu arti yang sederhana diucapkan namun maknanya sulit dimengerti, adakah soulmate-mu-ku? Ide konyol temanku muncul, coba cari pake Om GOOGLE atau Tante Yahoo, kali aja ketemu, hahaha...
Iseng browse ternyata www.soulmate.com ada lho, haha.. malu ah.. tuk daftar, tapi dak tau ya klo besok, hehehehe...

Selamat buat yang uda nemuin dan tetap berjuang buat yang belum. hik..hik nyari lagi deh.

Saturday, March 24, 2007

Kenangan Kecil

Rasanya hampir semua orang punya kenangan masa kecil, terlepas kenangan indah atau buruk. Karena berasal dari kampung, masa kecilku sama seperti kebanyakan anak-anak kecil lain sebayaku waktu itu, patok-lele, laga ikan, layangan, nangkap ikan belut(yang dak pernah dapat) yang penting seru aja, atau nyari tempat mandi di sawah-sawah sambil nyari burung juga pernah aku lakoni semasa kecil, yang sepulang maen pasti kena semprot mama dan oppung, haha...haha. teringat masa kecil emang menyenangkan banget, dulu kalau abis maen disuruh mandi aja paling susah, harus dikejar-kejar ama namboru[adik-nya bapak], hahaha ... karena kejar-kejaran, bajunya uda dilepas didepan rumah alias telanjang, dari halaman rumah lari ke dapur buat mandi. seru deh ... hehe.. manja sih.

Pernah nonton Layar-Tancap? Atau acara sunatan massal? karena penghuni kampungku banyak 'wong-jawa-kebon' acara ini kerap aku kunjungi, soalnya yang disunat temen-temen sekolahan SD. Sekedar perbandingan, disekolahku waktu SD masih ada yang dak pake sepatu alias telanjang kaki, bayangkan kampungku masih punya koleksi orang yang begituan tapi sejujurnya aku senang bersahabat dengan mereka "POLOS APA ADANYA", klo jamannya bapak-ku mungkin wajar kali ya.
Pernah nonton 1 tiket untuk 2 orang? Kalau 1 tiket 2 film "istilah NOMAT ala kampung" gimana? Ini jadi bagian kesukaanku masa kecil, sayang BIOSKOPnya uda berubah jadi 'Cafe+tempat-dugem+penginapan" (ala Kampung), huh.. ilang satu kenangan kecil. Walau aku menikmati kehidupan kampung hanya sebatas lulus SD, namun kesan yang kudapat sangat beda dengan pegalaman semasa SMP-SMA di kota Medan yang cenderung brutal.

Mungkin akan kontras klo dibandingkan dengan masa kecil teman-teman yang di kota, walau poinnya juga 'maen'. Dari keluargaku misalnya cuman aku yang dak pernah ikut TK, karena masa itu di kampungku lon ada TK sih, 2 orang adikku kebagian TK, jadi aku dak tau klo disuruh nyanyiin lagu TK, hehe... lagi deh Hm..mm..
Misalnya "scrabble" yang jadi maenanku sekarang klo dak ada kerjaan yang kukenal di usia dini, hehe...hehe... tapi dak apalah, walau semua game harus menyita banyak waktu tanpa terasa, ternyata masih bisa diadu koq kalau hanya dengan komputer. Masa-masa anak cucuku maenannya ntar apa ya, yang jelas aku merindukan masa kecil indah-ku. Biar KAMPUNGAN asal dak katrok kata TUKUL ;) i love Kampung Pon[nama kampungku].

Monday, February 26, 2007

Iseng baca buku-lama dikamar

Iseng baca buku-lama dikamar "Web Hacking karangannya Stuart McClure dkk", nemuin barisan kata yang mengglitik, tentunya bukan konten teknisnya, hanya frontpage(hal. depan) dari Kata-Pengantar yang dikutip dari seorang SASTRAWAN aja kok(ada di hal xix).
Namun secara kesuluruhan buku ini cukup menarik juga buat orang awam sepertiku, paling tidak bisa nambah kehati-hatianku untuk lebih lebih aware(tahu-sadar-lalu insaf) akan Network-Security(Keamanan Jaringan) dan internet secara global, paling tidak berusaha dak jadi korban lah, hehe..hehe.. ya dak? oh iya kata orang kalau sekedar tahu dan sadar katanya belum tentu insaf ya? (tulisan benarnya insaf atau insyaf...teuinkkq).

"Kebenaran itu satu, tetapi kesalahan berkembang biak. Manusia melacak beragam kesalahan dan membagi-baginya dalam bagian-bagian kecil dengan harapan mengubahnya menjadi butiran kebenaran. Namun demikian, bagian terkecil dari yang paling kecil itu seara esensial tetaplah merupakan kesalahan" -- RENE DAUMAL(1908-1944), Penyair Perancis, Kritikus.

Agak lama barisan kata itu hinggap di ubun-ubunku, apa karena uda jarang baca buku kali ya (cuman baca koran)? tanyaku dalam hati, belakangan ini emang aku uda jarang beli dan baca buku sih, dak sempat alasannya :(.
Sejujurnya batinku dak berani membenarkan deretan kata sang penyair itu, tapi setelah aku pikir-pikir, nilai kebenarannya nyaris nyata, mungkin hanya segelintir orang yang berprilaku baik yang bisa menolaknya dengan halus (aku masih yakin juga kalau masih ada orang benar). Aku ada di posisi mana ya .... au ah gelap ...!!!!

Wednesday, February 14, 2007

My Valentine SOnG

You're My Everything -- Santa Esmeralda

Na na na na ...

You're my everything
The sun that shines above you makes the blue bird sing
The stars that twinkle way up in the sky

Tell me I'm in love, when I kiss your lips
I feel the rolling thunder to my finger tips
And all the while my head in a spin
Deep with in I'm in love

You're my everything and nothing
Really matters but the love you bring
You're my everything
To see you in the morning with those big brown eyes
You're my everything
Forever and the day
I need you close to me
You're my everything
You never have to worry never fear
For I am near when I hold you tight
there's nothing that can harm you in the lonely night
I'll come to you and keep you safe and warm
Yes, so strong my love

You're my everything
I live upon the land and see the sky above
I'll swim within oceans sweet and warm
There's no storm my love
(Repeat)

Sunday, February 11, 2007

Pengalaman-ku

Ada kebiasaan klo ngomong dengan orang yang lebih tua cenderung lebih ati-ati, yang jadi masalah bagaimana menyampaikan sesuatu untuk bisa dimengerti olehnya(lawan bicaraku yg lebih tua dariku maksudnya), dengan tanpa mengurangi rasa hormat, tanpa kesan menggurui. Pengalaman hidupnya kan lebih banyak dibandingkanku (terlepas pengalaman baik atau buruk).
Pengalaman ini aku alami beberapa hari yang lalu, Ribetnya lagi "Emang sang Bapak tersebut sangat buta dengan bahan training", kasian, iba, galau, rasa dak enak hati terbersit di hatiku. Dari 2 jam jadwal yang ditentukan, akhiranya molor 7 jam lebih (biasanya cuman molor 15 menit kok), hanya untuk ajari 1 orang (Private deh), akhirnya sampe rumah jam 1 pagi lagi.

Memang ada kepuasaan tersendiri buatku bisa ajari mereka dan mereka mengerti, itung2 amal kali ya, hahaha...haha.. mungkin klo sebaya denganku, atau lebih muda dariku susah untuk bisa kontrol eSm0aSi secara stabil. Akhirnya emang aku berhasil melakukan sesuatu yang beda kali ini, paling tidak aku bisa membuat lawan bicaraku mengerti akan maksudku, dengan membuatnya mengerti akhirnya jadi bisa tukar pikiran deh.

Ternyata kejadian ini terulang lagi, Dikamarku kedatangan Tamu "pensiunan BUMN", batak asli pula lagi, karena ngomongnya nyambung entah mengapa malah CURHAT dia, Ups.. jadi tempat curhat nih, Katanya dia sering menemukan anak-anak muda yang "KURANG-AJAR", apa maksudnya Om... tanyaku, terkadang mereka dak tau berhadapan dengan siapa? kebanyakan sok tau lah, atau sok hebatlah, atau apalah, katanya dengan mimik serius. Ironisnya mereka itu bawahan saya tambahnya(busyet).

Wah separah itu ya(tanyaku dalam hati), akhirnya aku coba untuk larikan pembicaraan dengan topik "BATAKnisss", hehehee.. rasis deh. soalnya dak-ada-solusi buat curhatannya, dan aku berhasil, akhirnya sampe pagi lagi deh ngolor ngidulnya (ketik C spasi D dibaca Cape Deh...)
Tanpa terasa kami uda bahas banyak hal, yang buat kami terpingkal-pingkal, tanpa sadar ada beda usia yang sangat jauh diantara kami, lucunya ternyata malah dia yang banyak nanya, hehehe ... tanyaku lagi dalam hati, apa komentar anak istrinya ya besok.

Sejenak lamunanku datang "Satu sisi kehidupan ternyata sedang aku jalani", paling tidak aku bisa turut mewarnai keragaman alam semesta ini, dengan sosialisasi lingkungan, teman, kantor atau dengan siapapun, bersama dengan apresisiasi yang hangat. Memang aku punya banyak teman dari berbagai macam golongan, tapi apakah aku berarti buat mereka, atau adakah dampak positifku buat mereka? atau malah selama ini telah nyebelin mereka.
Adakah kata yang lebih sederhana untuk menyampaikan arti "SEDERHANA" ? Kenyataan, warna hidup emang sederhana kok, Jauh lebih baik melakukan hal-hal kecil dengan hasil maksimal, daripada melakukan rencana besar tapi hasil minimum. Apa hubungannya ya ...??? Dengan menjadi teman bicara yang nyambung, menurutku mungkin telah menjadi sangat berarti bagi sang kedua Bapak-tua tersebut(ini maksudku dgn kesederhanaan). Hal ini yang kulihat dari ekspresi wajah mereka, ada kepuasan atau apalah istilahnya.

Namun kedua orang yang beda itu menayakan hal yang sama, Kapan nikah? entar lupa lho ..., pertanyaan yang selalu kujawab dengan tawa atau senyum. Mungkin ini pertanyaan yang ke 170 triliun deh(istilah TUKUL). Kali itu, sejenak aku mikir, ini perhatian atau anjuran atau hanya sekedar ingin tahu atau apa ya? hehe.... deh... BTW:Selamat buat teman-teman yang uda nikah ya .....

Jadi teringat perjalanan di bandung, waktu itu aku menemukan sepasang tua yang sedang istirahat dengan gerobak barang bekas mereka, didalam taksi yang melaju di jalur satu arah aku berpikir, di Bandung kan banyak pengemis? Tapi entah mengapa aku kepikiran terus akan mereka. Pak rada pelan ya jalannya, pintaku ke Pak Supir yang akhirnya aku minta berhenti sebentar. Akhirnya aku jalan balik arah, ke arah sepasang sejoli-tua itu, aku berniat potret mereka dgn MOBILE-ku tapi dak jadi (dak tega), akhirnya aku hanya melewati mereka, dan balik arah lagi ke arah taksiku sembari perhatikan mereka. setelah aku berjalan sejauh mungkin, seolah-olah aku tertahan yang akhirnya aku kembali mendekati mereka berdua. Sekian detik aku amati mereka istirahat dengan tenang disampng gerobaknya, lalu aku buka dompet berikan "SEBERAPA-AJA". Aku tempuk Pundak sang Pak-Tua, Pak ini nambahin ya kataku, sekilas aku melihat ekspresi BINGUNGnya, aku dak kuat lihat mereka sembali menyalam keduanya aku minta pamit. Di dalam taksi aku juga menemukan ekspresi wajah yang beurubah dari sang SUPIR, lanjut Pak ke Kt.Kembang (pusat DVD bajakan) pintaku ke Pak Supir.

Sampai sekarang aku masih ingat ekspresi raut wajah-wajah sukacita orang-orang tua yang pernah berbincang denganku, atau yang pernah sekedar berpapasan(sepasang pengemis tua di bdg). zz....zz.....

Friday, February 09, 2007

Cerita Akhir Pekan

SDM bagus berbanding lurus dengan sallary yang wow... (wajar sih) tapi gimana dengan yang punya skill pas-pas-an atau hanya sekedar lulusan entah brantah atau sama sekali hanya tamat SD atau SMP atau SMA? kaya gue yg lulus dengan kemelut -:), Ternyata emang ada tempatnya kok. (ini kesimpulanku dan temanku)

Ceritanya temen-ku jadi direktur Perusahaan Distributor Bahan makanan di Bandung, PT.XXX**^_^**XXX (tapi gilanya bisa MONOPOLI sejawa barat), taunya kalau dia Direktur sekaligus Pemilik setelah nyampe kantornya (Bukan Direktur Merangkap Babu >> istilah si Birong). salut juga sih... Awalnya dia confirm buat solusi IT di kantornya, tentunya dengan BUDGET yang sedemikian dan dengan Team Operasional yang sebegitunya (bingung...wajarlah, aku juga kok).

Singkat cerita akhirnya harus bajak SofTware perusahaan lain, biar cepat ceritanya, dan sudah terbiasa gunainnya (Inventory n Account Soft ), awalnya agak sungkan ngerjainnya... (Bajak sih !!), tapi namanya BABATURAN kate orang sunde. Setelah Utak-atik sana sini akhirnya bibir-ku bilang "OK ... semua FIX", akhirnya software bisa jalan dengan semestinya. Makan-makan deh ...!!!

Gawatnya setelah semua-nya normal dan jalan dengan baik, ternyata yang jadi masalah adalah sang karyawan yang dak terbiasa dengan komputer(biasanya pake kalkulator atau sempoa kali ya ...) hanya bisa jalan di tempat-ini setelah 3 minggu operasi. Dan Ribetnya lagi teman gue tipikal "MARKETER abis.." ndak mau pusing dengan aroma-aroma teknologi(kecuali BOKEP) yang buat otaknya dak normal, katanya "kan ada ahlinya ....." haha..haha... tapi klo jualan, jagoan dia.

---------------------------------------------------------------
jadi inget pembicaraan 2 teman di jkt, teman1(Softaware Developer), teman2(Developer Perumahan)
teman2 : Wah... virus skrg kejam2 ya. (virus komputer maksudnya)
teman1 : Yang buat kan orang indo
teman2 : Gitu ya... emang orang indo bisa buat virus?
teman1 : Makanya baca dong(nyengir but kidding)
teman2 : Emang kamu tau harga genteng berapa?
teman1 : dak...tau!! di+ dahinya mengkerut
teaman2: Makanya baca dong...
Haha..haha... akhirnya keduanya terbahak-bahak...!!!!!!! sama gilanya.
--------------------------------------------------------------

kembali ke masalah :
Akhirnya Cape deh ... arus ajarin lagi sang karyawan dgn sejuta kesabaran. Sejujurnya ini pengalaman pertamaku dengan segudang pertanyaan, ya apa bisa "Sang-Karyawan" ini bisa maksimal dengan laporan-laporannya, Btw:ternyata sarjana-ekonomi lho ...Temanku bilang, andaikan perusahaannya jadi perusahaan yang besar dan mem-besar, mungkin boleh mulai mikirin tentang SDM yang lebih Prof..(aku jadi teringat nasib buruh tekstil, dengan upah yang minim). Ini mungkin cara pikir yang beda antara seorang kuli(like-me) dan seorang Pengusaha kali ya .....
Semoga ada cara lain untuk bisa membuat laporan dengan baik, sambil belajar menggunakan mainan baru(KOMPI). Ciao....

Thursday, February 08, 2007

FREDDY FENDER lyrics - "Before The Next Teardrop Falls"


If he brings you happiness
Then i wish you all the best
It's your happiness that matters most of all
But if he ever breaks your heart
If the teardrops ever start
I'll be there before the next teardrop falls

Si te quire de verdad
Y te da felicidad
Te deseo lo mas bueno pa'los dos
Pero si te hace llorar
A mime puedes hablar
Y estare contigo cuando treste estas

I'll be there anytime
You need me by your side
To drive away every teardrop that you cried

And if he ever leaves you blue
Just remember, I love you
And I'll be there before the next teardrop falls
And I'll be there before the next teardrop falls

Wednesday, December 20, 2006

i--S--E--N--g

Pertama:
Terdapat 9 Buah Apel dengan bentuk dan ukuran yang sama, Namun ketika ditimbang menggunakan neraca terdapat 1 buah yang paling berat[8 buah sama berat dan 1 buah yang terberat], berapa kali timbang-kah untuk mengetahui mana apel yang terberat ?

Katanya sih dengan 2 kali timbang, pasti berhasil nemukan yang terberat


kedua:

1 Diketahui X=Y ;
2. Kalikan kedua sisi dengan "X" >>> X^2=XY ;
3. Kurangkan "Y^2" dari kedua sisi >>> X^2-Y^2=XY-Y^2 ;
4. Uraikan masing-masing sisi >>> (X+Y)(X-Y)=Y(X-Y) ;
5. Buang "X-Y" >>> X+Y=Y ;
6. Gantikan "X" dengan "Y", menurut persamaan "1" >>> 2Y=Y ;
7. Bagi masing-masing sisi dengan "Y" >>> 2=1 ??;

Jika X=Y, Kalau Ayam=Kucing, Jadi Kumaha nyak...

Friday, December 08, 2006

Bebas Sementara

Ups... lama dak update BLOG, hari ini aku bebas sementara dari "penjara-ku", lama juga sih terkungkung dan terikat di + ketergantunganku ama kompi-ku lepas sudah, hehe... walau hanya sementara, dak apalah paling tidak aku bisa bernafas sedikit lega.
Awalnya dari tawaran buat aplikasi desktop, pengennya sih develop pake PHP aja[mo kawinin web n desktop], tapi sayang sang client ndak ngerti PHP :(, katanya sih biasanya pake .Net, ya udah aku banting setir aja pake .Net, maksud hati biar entar nyambung, eh.. ternyata dak bisa nyambung juga, hehe.. dak peduli sih sebenarnya, yang penting "Goalnya" dan alur aplikasi-ku bisa dimengerti[biar ntar waktu presentasi dak banyak omel]. Have FUN, NGOPI, hearing my soft jazz-blues mp3, rapiin my movies collection, and cuci mata...... besok rencana ke CIKOLE semoga ndak batal, lumayanlah hirup udara segar, rindu juga sih ama nuansa gunung, kapan lagi ya naek gunung, mumpung lon kawin... hahahhaha, Pokoknya jauhin Kompi.

Tuesday, October 03, 2006